Quarter Life Crisis dan Cara Menghadapinya

Quarter Life Crisis dan Cara Menghadapinya

Di usia kepala dua seseorang akan masuk ke dalam fase quarter life crisis, biasanya ada banyak hal yang menghantui. Mereka merasa masalah kehidupan semakin rumit dan sulit. Meskipun sepele, namun jika dibiarkan begitu saja tentu dapat mempengaruhi psikologis seseorang baik dalam jangka pendek atau pun panjang.

Fase quarter life crisis banyak dialami oleh mereka yang memasuki usia 25-30 tahun. Fase ini bisa membawa seseorang pada dua pengaruh, entah itu justru malah memotivasi atau bahkan sebaliknya hingga dapat menimbulkan stress berkepanjangan. Hal ini juga tidak lepas dari pola pikir pribadi masing-masing dan faktor lingkungan.

Jadi, Apa Itu Quarter Life Crisis?

Dalam ilmu psikologis, quarter life crisis adalah fase dimana seseorang mengalami kecemasan terhadap kualitas dan tujuan hidupnya. Entah itu dalam segi karir, finansial, keluarga, dan pasangan serta hal-hal lainnya yang menjadi kekhawatiran. Fase ini juga membuat seseorang sering bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang seberapa banyak pencapaian yang telah ia raih. Hal ini juga dapat mengarah kepada pesimistik yang berlebihan.

Quarter life crisis merupakan proses alami dan benar-benar normal. Namun tidak sedikit yang berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena sudah putus asa dan hal ini yang harusnya dihindari oleh setiap orang. Termasuk kamu!.

Untuk itu dukungan dari lingkunan keluarga, teman dekat dan rekan kerja sangat penting untuk membantu mereka melewati fase ini sehingga berujung kepada hasil yang baik.

Penyebab Quarter Life Crisis

Penyebab quarter life crisis cukup beragam. Secara garis besar tidak jauh dari pengertian quarter life crisis itu sendiri. Seseorang memiliki rasa percaya diri yang rendah, memikirkan masa depan terlalu jauh, berekspektasi tinggi, kurangnya motivasi dari dalam diri sendiri, kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar serta merasa tertekan sehingga menimbulkan kecemasan.

Gejala yang dialami, seseorang menjadi sering melamun, malas, daya tahan menurun karena stress  jangka panjang, lebih suka menyendiri, lambat dalam mengambil keputusan dan mudah emosi. Namun tanda ini kembali lagi kepada karakter pribadi setiap individu.

5 Fase Quarter Life Crisis

Berdasarkan penelitian dari University of Greenwich, Dr. Oliver Robinson membagi fase quarter life crisis menjadi 5 bagian mulai dari awal hingga akhir sebagai berikut:

Fase 1: Terjebak Dalam Pilihan

Pada fase ini seseorang sering kali berada pada kondisi bimbang. Dalam fase ini kamu merasa terjebak dalam kehidupan yang seakan-akan telah diatur, sehingga kamu hanya bisa pasrah dan sulit untuk berbuat yang lebih baik lagi.

Fase 2: Ingin Keluar dari Zona Aman

Meski berada di zona yang membuat kamu aman. Tapi rasanya sudah terlalu jenuh, kamu jadi sulit menerima keadaan sedangkan orang-orang sekitar telah banyak beranjak dan bergerak. Sehingga kamu merasa perlu keluar dari zona amanmu.

Fase 3: Keluar dari Zona Aman

Kamu mencoba bergerak mengikuti naluri yang ingin kamu lakukan. Mencoba mencari sesuatu yang baru yang bisa mengubah hidupmu menjadi lebih baik. Kamu jadi lebih sering bereksplorasi dan mengembangkan kreativitasmu.

Fase 4: Membangun Semuanya dari Nol

Keluar dari zona aman, tandanya kamu memulai segalanya dari awal. Entah itu dari segi finansial, karir ataupun hubungan dengan orang lain.

Fase 5: Membangun Komitmen Pasca QLC

Setelah semua yang kamu mulai, kamu merasa perlu membangun komitmen atas apa yang telah kamu jalani dan terus menggalakkan semangat baru. Dalam fase ini perlahan kecemasan akan hilang.

Cara Menghadapi Quarter Life Crisis

Setiap masalahan memiliki waktu dan penanganan yang tepat. Termasuk pada fase quarter life crisis yang kamu alami. Ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk menghadapinya, antara lain:

Kurangi Bermain Sosial Media

Rasa percaya diri turun karena kamu sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Padahal masing-masing individu memiliki proses yang berbeda-beda. Hal ini justru dapat merugikan.

Kamu justru akan terjebak ke dalam rasa pesimis berlebihan dan menjadi pribadi yang kurang bersyukur. Untuk menghadapi hal ini, seseorang bisa mengurangi bermain sosial media. Berhenti melihat kesuksesan orang lain sebagai bentuk pencapaian yang semua orang harus sudah capai.

Mencari Kegiatan Baru

Supaya segala kecemasan itu teralihkan, kamu perlu melakukan kegiatan baru supaya tidak merasa bosan. Hal ini juga dapat mencegah kamu dari lamunan yang panjang, yang bisa mendatakan pikiran-pikiran negatif. Cobalah untuk rutin olahraga, kumpul dengan teman atau mengikuti kegiatan webinar atau workshop yang bisa menunjang bakat yang kamu miliki.

Merencanakan Tujuan Hidup Lebih Baik

Kamu perlu memikirkan langkah-langkah baru untuk mencapai tujuan hidup baru. Segala yang tertunda bisa kamu lakukan kembali, atau langkah baru untuk kehidupan baru. Mencoba mewujudkan apa saja yang kamu inginkan. Lebih baik menghargai proses daripada terus mengukur kesuksesan orang lain.

Terbuka dengan Orang Terdekat

Kegiatan sharing session juga diperlukan dengan sahabat atau orang yang sudah sangat kamu percaya. Untuk membicarakan apa sedang kamu rasakan, apa masalah yang sedang kamu alami. Tidak ada salahnya bercerita kepada orang lain. Sebab kecemasan sering kali hadir karena banyaknya memendam permasalahan.

Mencintai Dirimu Sendiri

Jika kamu mencintai dirimu sendiri, maka mulailah. Berpikirlah positif bahwa kamu bisa memberikan yang terbaik untuk dirimu dan orang lain. Kamu juga harus bangga atas semua pencapaian yang sudah diraih, sekecil apapun kerja kerasmu.

Lebih percaya diri dengan karir yang dijalani, karena rasa percaya diri adalah awal dari kesuksesan. Serta berpikir bahwa kesalahan yang diperbuat adalah sebuah pelajaran yang berharga dan mampu kamu ubah.

Share juga pemikiran kamu di kolom komentar tentang quarter life crisis. Bagikan juga di sosial media agar lebih banyak orang yang teredukasi dan mengetahui tentang quarter life crisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *