Gejala, Penyebab dan Pengobatan Usus Buntu

Gejala, Penyebab dan Pengobatan Usus Buntu

Sakit perut merupakan hal yang lumrah dialami oleh setiap orang, namun berhati – hatilah sebab sakit perut juga memiliki banyak penyebab yang beragam, sesuai dengan lokasi organ di dalam perut. Sebagai contoh, bila seseorang merasakan sakit atau nyeri yang muncul di sekitar pusar, kemudian menjalar ke kanan bawah perut disertai dengan demam, mual dan muntah. Bisa jadi merupakan gejala penyakit usus buntu atau apendicitis.

Hal tersebut tentu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama karena dapat membahayakan kinerja tubuh. Bila seseorang dengan apendicitis tidak segera ditangani maka bisa menyebabkan usus buntu pecah dan menyebar ke seluruh rongga perut yang akan membuat penanganan lebih sulit.

Penyakit Usus Buntu

Penyakit usus buntu adalah peradangan dari appendiks atau usus buntu. Sesuai dengan namanya, usus buntu adalah saluran usus yang ujungnya buntu, penonjolan di sisi kanan usus besar yang menyerupai rumbai cacing. Usus buntu merupakan usus yang sampai sekarang belum diketahui apa fungsinya. Seseorang dapat hidup meski tanpa organ ini.

Penyebab Usus Buntu

Penyakit atau radang usus buntu bisa menyerang siapa saja. Radang usus buntu terjadi karena rongga usus mengalami infeksi. Infeksi bakteri dan penyumbatan pada lapisan saluran usus buntu, timbunan tinja yang keras (fekalit), serta pembesaran jaringan getah bening merupakan penyebab seseorang mengalami usus buntu.

Gejala Usus Buntu

Gejala usus buntu ditandai dengan nyeri pada perut. Rasa nyeri timbul berawal dari pusar kemudian dalam kurun waktu 12 hingga 24 jam nyeri bergerak ke bagian kanan bawah perut. Gejala nyeri pada perut juga disertai dengan gejala lain, di antaranya:

  • Panas atau demam
  • Mual disertai muntah
  • Nyeri perut kanan bawah, sampai sakit jika berjalan
  • Perut kembung
  • Tidak bisa buang gas
  • Hilang nafsu makan
  • Kram perut hebat
  • Diare atau konstipasi

Segera datang ke dokter apabila mengalami gejala di atas atau mengalami nyeri pada perut yang perlahan semakin parah dan meluas ke seluruh daerah perut. Dikhawatirkan kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa usus buntu telah pecah sehingga penanganan semakin sulit.

Diagnosis Usus Buntu

Penyakit usus buntu sulit didiagnosis karena gejalanya tidak khas, sebab tidak semua orang akan menunjukkan gejala usus buntu, bisa saja hanya meriang atau mual dan muntah saja. Beratnya gejala usus buntu juga berbeda-beda tergantung posisi usus buntu pada setiap orang. Misalnya pada ibu hamil, usus buntu terletak di atas karena posisi usus buntu menjadi lebih tinggi saat hamil.

Dokter akan melakukan pemeriksaan dengan menilai rasa nyeri dengan menekan perut yang terasa nyeri. Setelahnya akan dilakukan sejumlah tes untuk memastikan penyakitnya. Umumnya tes yang dilakukan berupa:

  • Pemeriksaan urin guna menyingkirkan infeksi saluran kemih
  • Pemeriksaan darah guna memeriksa jumlah sel darah putih untuk melihat tanda infeksi
  • USG/CT scan untuk melihat kondisi usus buntu apakah membengkak atau tidak
  • Tes kehamilan untuk wanita guna memastikan bukan disebabkan kehamilan ektopik

 

Penanganan Usus Buntu

Bila sudah jelas diagnosa pastinya, maka penatalaksanaan standar radang usus buntu adalah operasi atau pengangkatan usus buntu. Namun sebelum operasi, pasien akan diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi, khususnya untuk usus buntu yang belum pecah atau dalam kondisi abses. Untuk usus buntu yang ringan, antibiotik dapat memulihkan kondisi pasien, sehingga operasi tidak perlu dilakukan.

Macam-macam operasi yaitu pembedahan terbuka dan laparoskopi, dimana pembedahan dengan luka operasi minimal. Pasien akan dibius total, pada operasi model laparoskopi pembedahan dilakukan dengan membuat beberapa sayatan kecil untuk dapat memasuki alat bedah khusus yang dilengkapi kamera agar usus buntu dapat diangkat. Operasi Laparoskopi merupakan operasi yang lebih disukai dan dianjurkan oleh lansia atau obesitas, karena tingkat pemulihannya yang lebih singkat.

Sedangkan untuk operasi pembedahan terbuka, perut bagian kanan bawah akan dibedah sepanjang 5-10 sentimeter dan mengangkat usus buntu. Pembedahan ini sangat dianjurkan untuk penderita usus buntu berat atau sudah bernanah (abses). Pelaksanaan pembedahan terbuka dapat dilakukan setelah infeksi dapat dikendalikan, caranya dengan mengeluarkan nanah menggunakan selang yang dimasukkan melalui sayatan kulit.

Penyembuhan dengan operasi pembedahan terbuka akan lebih lama dibanding laparoskopi. Jika laparoskopi pasien dapat pulang setelah 24 jam, sedangkan pembedahan terbuka baru bisa pulang setelah 48 jam.

Selama proses penyembuhan, kemungkinan dapat terjadi infeksi pada luka operasi. Untuk itu segera konsultasikan pada dokter.

Di bawah ini beberapa gejala yang bisa anda kenali, di antaranya:

  • Rasa nyeri dan bengkak pada bekas operasi
  • Muntah – muntah
  • Deman tinggi
  • Terdapat cairan nanah yang keluar dari bekas operasi
  • Luka operasi terasa hangat atau panas

 

Paska Pengobatan

Selama masa pemulihan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pasien antara lain:

  • Dilarang mengangkat sesuatu yang berat
  • Tidak dianjurkan berolahraga selama 6 minggu
  • Bila batuk atau tertawa beri penekanan pada perut dengan menaruh bantal untuk mengurangi rasa sakit.
  • Mulailah aktivitas fisik secara perlahan dengan berjalan kaki secara bertahap.
  • Istirahatlah jika merasa lelah, karena dalam masa pemulihan pasien akan mudah terserang kantuk
  • Segera hubungi dokter ketika obat antinyeri tidak dapat membantu. Rasa nyeri yang timbul bisa membuat pasien menjadi stres dan menghambat pemulihan

 

Share artikel ini dan tuliskan pemikiran kamu terkait penyakit usus buntu di kolom komentar. Semoga dengan penanganan yang cepat dan benar dapat membantu kamu untuk mengobati penyakit usus buntu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *