Pengertian dan Hukum Khitbah Dalam Islam

Pengertian dan Hukum Khitbah Dalam Islam

Setelah proses ta’aruf dilakukan serta kedua calon cocok dan setuju, baik dari pihak laki-laki maupun wanita, selanjutnya adalah proses peminangan dari pihak laki-laki kepada wanita yang akan dinikahi sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Dalam ajaran Islam, proses tersebut dikenal dengan khitbah. Proses ini mempertemukan antara keluarga laki-laki dengan keluarga si wanita. Teknik dan gayanya bisa disesuaikan dengan adat maupun kebiasaan yang berlaku pada setiap masyarakat. Hal ini bukan masalah selama masih dalam batas-batas syariat Islam (tidak melanggar syariat).

Pengertian dan Hukum Khitbah

Dalam bahasa Indonesia, ada bermacam terjemahan dari khitbah, di antaranya ialah bermakna melamar atau meminang. Sedangkan, dalam kitab Al-Khitbah Ahkam wa Adab karya Syekh Nada Abu Ahmad, pengertian khitbah menurut bahasa dan istilah diartikan sebagai permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada wanita yang akan dikhitbah atau kepada wali wanita tersebut.

Selama ini, sebagian orang menganggap khitbah sama dengan tunangan. Padahal, tunangan sama sekali berbeda dengan khitbah. Pertunangan adalah semacam upacara atau ritual tertentu yang meresmikan bahwa suatu pasangan itu sepakat mau menikah nantinya. Budaya ini tidak berasal dari Islam.

Biasanya, pertunangan ditandai dengan disematkannya cincin pertunangan di jari masing-masing calon pasangan. Jadi, bertunangan bukan suatu original yang datang dari syariat Islam. Bisa saja, orang menggelar acara pertunangan, tetapi di dalamnya belum tentu berupa khitbah. Atau terkadang sebenarnya merupakan khitbah, tetapi diberi nama pertunangan. Sebab, antara keduanya memang ada perbedaan yang mendasar.

Perbedaan antara khitbah dan tunangan terletak pada langkahnya. Khitbah merupakan pengajuan lamaran atau pinangan kepada pihak wanita. Namun, pengajuan ini sifatnya belum lantas berlaku, karena belum tentu diterima. Bisa saja, pihak wanita meminta waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang atas permintaan itu untuk beberapa waktu.

Apabila khitbah diterima, maka barulah wanita itu menjadi wanita yang berstatus makhthubah, yaitu wanita yang sudah dilamar, sudah dipinang, atau bisa disebut dengan wanita yang sudah dipertunangkan. Namun, bila khitbah tidak diterima, misalnya ditolak dengan halus, atau tidak dijawab sampai waktunya, sehingga statusnya menggantung, maka wanita itu tidak dikatakan sebagai wanita yang sudah dikhitbah. Dan, pertunangan belum terjadi.

Menurut para ulama, khitbah tidak termasuk syarat sahnya pernikahan, Sehingga, andai seseorang tidak melakukan khitbah sebelum pernikahan pun sah-sah saja. Jumhur ulama sepakat bahwa hukum khitbah ialah mubah.

Dalam kitab Muhadharat fi al-Ahwal asy-Syakhsiyyah yang disusun oleh Prof. Dr. Faraj Ali as-Sayyid Anbar, ia menyebutkan pendapat yang mu’tamad dalam madzhab syafi’i. Bahkan lebih baik lagi jika prosesnya dilakukan dengan mengamalkan sunnah Rasullulah Saw., sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Adzkar Imam an-Nawawi.

Dalam kitabnya itu, Imam an-Nawawi menyebutkan amalan-amalan sunnah dalam khitbah. Menurutnya, disunnahkan seseorang yang melamar (baik diri sendiri atau wakilnya) membaca hamdalah, menyebut pujian kepada Allah Swt., dan shalawat untuk Rasulullah Saw. Setelah itu, bacalah, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahuu la syariikalah wa asyhadu anna Muhammadan abduhuu wa rasuuluh. Kami datang kepada keluarga bapak untuk melamar putri bapak.”

Demikianlah hukum khitbah, dan tentunya lebih baik jika mengikuti sunnah Rasulullah Saw., sebagaimana pendapat mu’tamad dalam madzhab Syafi’i, yaitu khitbah dianjurkan. Sedangkan berdasarkan keterangan Imam al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi al-Kabir, khitbah sunnah untuk dilakukan oleh kedua calon pasangan.

Adapun alasan dianjurkannya khitbah sebelum terjadinya pernikahan ialah akan membuat proses pernikahan menjadi lebih kuat. Sebab, prosesi khitbah akan membuat kedua belah pihak lebih mengenal dan memperkuat hubungan antara satu dengan yang lain.

Ibarat sebuah buku, khitbah atau lamaran ialah kata pengantar. Kita bisa saja langsung membaca isi buku tanpa perlu mengetahui kata pengantar tersebut. Kendati demikian, supaya pandangan kita enak dan utuh terhadap sebuah buku, alangkah baiknya bila membaca kata pengantar buku tersebut.

Artinya, sebagaimana disepakati oleh para ulama fikih, khitbah memiliki hukum mubah. Dan, bisa dianjurkan sekali (mustahabbun) bila dirasa perlu. Sebab, sejatinya hakikat khitbah untuk mengetahui dan mengenal pribadi calon pasangan hidup sebelum akad nikah.

Selain itu, tujuan penting lain dari khitbah ialah untuk mengetahui status sudah atau belum dilamarnya seseorang, alias masih available atau tidaknya seseorang. Hal ini mengingat ada beberapa konsekuensi secara hukum Islam yang mesti ditanggung bila statusnya sudah dalam lamaran orang lain.

Metode Penyampaian Khitbah

Dalam menyampaikan khitbah, ada dua macam metode, yaitu tashrih dan ta’ridh. Hal ini diterangkan dalam al-Qur’an sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini.

Dan, tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, daripada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf…

(QS. al-Baqarah: 235)

Berdasarkan ayat tersebut, para ulama memberikan beberapa penjelasan terkait cara menyampaikan khitbah. Adapun yang dimaksud dengan tashrih ialah ungkapan yang jelas dan tegas. Dalam hal ini, khitbah disampaikan menggunakan ungkapan yang tidak bisa ditafsirkan apa pun, kecuali hanya khitbah. Misalnya, “Aku melamar kamu untuk kujadikan istriku.”

Ada catatan terkait metode ini. Jika kamu melakukan khitbah dengan cara tashrih, hal ini hanya boleh disampaikan bila wanita yang kamu lamar memang wanita yang bebas dari ikatan pernikahan dan berbagai hal sejenisnya. Para ulama sepakat bahwa metode tashrih tidak boleh disampaikan kepada wanita yang belum boleh dikhitbah, seperti wanita yang belum usai masa idahnya. Jika melakukannya, maka ini haram.

Sedangkan, metode khitbah dengan ta’ridh adalah penyampaian khitbah atau lamaran yang menggunakan kata bersayap atau dalam bentuk isyarat, sehingga bisa ditafsirkan menjadi khitbah atau juga bisa bermakna sesuatu yang lain di luar khitbah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *