Pengalamanku Menjadi Pengidap Kusta dan Akhirnya Sembuh

Pengalamanku Menjadi Pengidap Kusta dan Akhirnya Sembuh

Perkenalkan namaku Ratih, gadis berumur 17 tahun asal dari Kabupaten Bogor. Masa remaja adalah masa yang paling indah kata mereka, tapi tidak menurutku beberapa tahun yang lalu, saat aku mengidap penyakit kusta. Saat itu, masa-masa remajaku hanya dipenuhi pengkucilan, lemparan batu, dan pikiran untuk bunuh diri.

Aku masih ingat hari-hari ketika saat aku masih menjadi pengidap penyakit kusta. Teman-teman di sekolahku tidak ada yang mau berteman denganku. Di kelas, setiap meja diisi oleh dua orang siswa secara berpasangan tapi hanya mejaku yang aku isi sendirian. Tidak ada yang mau sebangku denganku karena mereka merasa jijik dengan kulitku.

Saat aku duduk di kelas dua SMP, di saat itu pertama kalinya orang-orang menyadari bahwa aku memiliki bercak-bercak putih di kulit ku. Aku masih ingat dengan jelas kata-kata apa yang dipakai oleh teman sebangkuku waktu itu untuk pindah bangku. Dia berkata “entong diuk didieu, bisi nular ka urang, maneh duduk didinya weh nya” atau dalam bahasa indonesia “Jangan duduk disini, takut menular ke saya, kamu duduk disitu aja ya”.

Pengkucilan berlangsung dari hari ke hari nya yang semula dari teman sebangku menjadi satu kelas. Bahkan guru ku mencoba mengabaikanku waktu itu seolah aku adalah hantu yang haram untuk dilihat. Satu waktu guru bahasa indonesia mencoba menanyakan tentang ciri-ciri pantun kepada satu kelas, siapa yang tau tunjuk tangan. Aku pun tunjuk tangan dan jadi yang pertama menunjuk tangan saat itu. Secara refleks guru ku menunjuk ke arah ku dan mata kami saling bertatapan. Tapi dalam sekejap dia memalingkan matanya dan menunggu yang lainnya mengacungkan tangan. Dan akhirnya Nuri yang dipersilahkan untuk menjawab.

Kabar pun tersebar cepat di satu sekolah. Saat itu satu sekolah tau kalau aku memiliki bercak-bercak putih menjijikan di kulit. Setiap kali istirahat sekolah, saat mengantri jajanan, jika mereka tau di belakang mereka adalah aku, mereka tiba-tiba berganti jajanan atau tidak jadi membeli jajanan sambil berlari-lari kecil sambil menatap ke arahku.

Dan tentu di sekolah itu ada seseorang laki-laki yang sangat aku sukai dan aku kagumi. Tapi aku tidak kuat melihat tatapan jijiknya kepadaku saat itu dan bagaimana aku menjadi bahan olok-olokan dia dan teman-temannya. Aku merasa hancur dan hina seolah aku adalah kotoran yang berjalan yang harus dihindari keberadaannya. Ditambah saat pulang sekolah terkadang anak kecil melempari ku batu karena kulit ku yang penuh dengan bercak-bercak putih.

Semenjak enam bulan dari pertama kali teman-teman ku menyadari bercak putih dikulitku, aku memutuskan untuk tidak pergi berangkat sekolah lagi karena aku tidak tahan dengan stigma yang mereka berikan kepadaku. Aku tidak kuat menerima semua itu setiap harinya. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak tangisan yang aku keluarkan di bangku sekolah dan ketika aku baru sampai rumah.

Tentunya aku sudah berusaha untuk mengobati kulitku saat itu, aku mencoba mengolesi nya dengan salep dengan harapan besok pagi akan menghilang. Tapi hasilnya nihil, bercak-bercak putih itu tetap saja ada malahan bercak putih itu semakin menyebar di area kulit ku yang lain. Aku sudah bertanya pada banyak orang, dari orang tua, teman, guru bahkan sampai ke orang asing yang berpas-pasan di jalan, tapi mereka semua mengatakan sama, bahwa bercak-bercak putih itu hanyalah panu.

Tak terasa sudah delapan bulan diam dirumah dan tidak bersekolah. Tak ada perubahan terhadap kulitku dan entah seberapa kuat aku menggosoknya dengan sikat, bercak-bercak putih itu tetap ada bahkan aku tidak merasa nyeri sama sekali ketika aku menggosoknya dengan keras di area bercak putih tersebut. Aku merasa marah dan secara bersamaan merasa tidak berdaya karena tidak tau harus berbuat apa untuk menghilangkan penyakit kulit ini. Rasanya seperti kutukan, bagaimana pun aku berusaha menghilangkannya, penyakit ini tetap tidak akan bisa hilang.

Entah ada angin apa tiba-tiba orang tua ku mengajakku pergi ke rumah sakit yang ada di kota Bogor. Mungkin selama ini mereka baru bisa mengumpulkan uang untuk bisa memberanikan diri pergi ke rumah sakit kota. Ayahku hanyalah seorang buruh dan ibuku seorang ibu rumah tangga dan di lingkungan kami berpikiran bahwa pergi ke rumah sakit membutuhkan banyak uang. Untuk itu jika hanya penyakit yang bisa disembuhkan oleh obat warung, maka pantang sekali bagi kami untuk pergi ke rumah sakit.

Tibalah kami di rumah sakit, aku dilayani seorang dokter saat itu, dokter mengatakan bahwa penyakit ku ini bukanlah panu melainkan kusta. Dokter tersebut menjelaskan bahayanya penyakit kusta dari bercak putih, tidak bisa merasakan nyeri dan panas di kulit, borok dipermukaan kulit hingga kecacatan di jari tangan dan kaki. Ngeri sekali pikirku saat itu dan khawatir jika benar-benar itu terjadi padaku. Tapi aku terbilang beruntung, kusta yang aku derita masih bisa diobati dan belum sampai menggerogoti kulit, atau jari tangan dan kakiku.

Setelah pemeriksaan ternyata aku diperbolehkan untuk pulang (tidak menginap dirumah sakit) tidak seperti dugaanku. Tapi aku diberi beberapa antibiotik untuk di konsumsi dirumah selama setidaknya satu tahun pengobatan untuk kepastian sembuhnya dan diharuskan melakukan pengecekan secara berkala ke rumah sakit. Pergi ke rumah sakit tidak seburuk yang aku kira diawal, dokternya pun ramah melayani tanpa mata sinis yang biasa aku dapatkan.

Berminggu-minggu aku menjalani pengobatan secara konsisten dengan mengkonsumsi antibiotik yang telah diberikan. Beberapa kali juga aku dan ibu pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan. Selama itu aku merasa perubahannya, yang awalnya bercak-bercak putih di kulit itu dimana-mana, sekarang sudah mulai memudar dan hilang satu persatu. Dan aku lupa menyampaikan biaya yang kami keluarkan selama pengobatan pun masih harga yang masuk akal dan dapat dijangkau oleh kami dan tidak sebanyak yang kami duga sebelumnya.

Setelah aku cari tau tentang apa itu penyakit kusta, ternyata penyakit kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae dan ditularkan dari percikan ludah atau dahak, yang keluar saat batuk atau bersin. Selain itu Indonesia ternyata menjadi negara ketiga terbanyak pengidap penyakit kusta. Aku masih sangat beruntung dibanding pengidap lain yang sudah tidak memiliki jari tangan lagi karena kustanya sudah parah. Juga kusta dapat mematikan rasa dan menghilangkan rangsangan suhu sehingga menjadi berbahaya contohnya tidak dapat merasakan sakit karena tertusuk paku.

Sudah setahun lebih aku mengidap penyakit kusta ini dan baru sembuh ketika aku pergi ke tenaga medis seperti dokter di rumah sakit. Aku bersyukur sekali bisa diizinkan oleh tuhan untuk sembuh dan tidak kekurangan atau kecacatan sedikit pun. Entah apa yang terjadi jika tidak pergi ke rumah sakit, mungkin aku sudah merencanakan untuk bunuh diri saat ini karena merasa malu dan tidak berguna. Tapi sekarang aku sembuh dan mulai menyusun lagi sekolah dan impianku di masa depan. Aku mendapatkan hidupku kembali dan kendali atas hidupku yang selama ini di renggut oleh kusta.

Selain itu dari kejadian ini aku jadi sadar tentang permasalahan sosial yang ada disekitarku. Kurangnya pengetahuan dan akses pada informasi dan stigma pada cara mengobati diri menjadi isu disekitarku. Selain itu perlu juga pencegahan dan diagnosis secepat mungkin sebelum penyakitnya lebih parah. Aku harap bisa melakukan hal yang lebih bagi lingkungan sekitarku terkait permasalahan sosial yang ada.

Terima kasih telah membaca pengalamanku, aku harap ceritaku bisa menginspirasi dan mengajarkan bahwa penyakit harus segera diobati sebelum terlambat. Jangan takut untuk pergi ke dokter untuk melakukan konsultasi dan pengobatan. Dan perlu juga untuk memiliki akses informasi yang bisa diandalkan agar bisa terdiagnosa sedini mungkin entah itu dari dokter, puskesmas, rumah sakit, internet dll.

#SUKA #NLRxKBR #LombaNLRxKBR #IndonesiaBebasKusta #menulisuntukkusta #SuaraUntukIndonesiaBebasKusta #janganlupakankusta #hinggakitabebasdarikusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *