Mitos Penggunaan Masker Selama Pandemi yang Wajib Kamu Tau

Mitos Penggunaan Masker Selama Pandemi yang Wajib Kamu Tau

Saat ini penggunaan masker menjadi hal wajib yang harus dikenakan saat di luar rumah selama masa pandemi Covid-19, khususnya di Indonesia. angka kematian yang terus meningkat membuat pemerintah dan para tenaga medis menyerukan penggunaan masker. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk menekan penyebaran virus Covid-19.

Ada pula orang – orang yang masih mengabaikan peraturan ini dengan alasan lupa membawa atau malas dan juga tidak leluasa bernapas saat memakai masker. Selain itu, munculnya anggapan atau mitos yang beredar di masyarakat yang membuat mereka enggan menggunakan masker. Terutama masker medis yang dianggap dapat mengurangi asupan oksigen dan membuat penumpukan karbon dioksida didalam tubuh.

Di Amerika Serikat tepatnya di Florida, dengan kasus Covid-19 yang terus melonjak, cukup banyak warganya yang menolak untuk menggunakan masker. Karena mereka menilai penggunaan masker hanya akan menjadi penyebab keracunan karbon dioksida. Ada pula orang yang tak mau menggunakan masker karena takut menyebabkan masalah pada penderita asma.

Dilansir dari Daily Beast Kamis (9/7), berikut 5 mitos terkait penggunaan masker selama pandemi, di antaranya sebagai berikut :

Mitos Tentang Pendisiplinan Penggunaan Masker Melanggar Hak Konstitusional

war 929109 1280

Warga Florida melakukan unjuk rasa dan melakukan protes. Mereka bersikeras bahwa kewajiban penggunaan masker melanggar hak – hak konstitusional. Di benua yang sama di Washington, muncul regulasi dengan menyebutkan bahwa memakai masker memiliki resiko mental dan fisik. Sehingga muncullah oknum – oknum yang kemudian memanfaatkan kekacauan ini. Disayangkan oknum – oknum ini membuat sebuah kartu dan selebaran palsu yang mengatasnamakan Americans with Disabilities Act (ADA).

Kartu tersebut memuat pernyataan bahwa penggunaan masker dapat menyebabkan pemilik kartu tersebut beresiko mengalami masalah mental dan fisik. Sehingga orang – orang yang tidak ingin memakai masker hanya tinggal menunjukkan kartu tersebut kepada pemilik usaha/toko yang mereka kunjungi.

Adanya kasus tersebut, Departemen Kehakiman angkat bicara dengan membuat pernyataan bahwa pemberitahuan itu palsu dengan mengambil cap Departemen Kehakiman dan nomor telepon ADA. ADA juga telah memberikan penyataan bahwa mereka tidak pernah mengeluarkan kartu tersebut.

Mitos Tentang Masker bisa Menjadi Penyebab Keracunan Karbon Dioksida

pollution 2575166 1280

Cukup diakui bahwa penggunaan masker sering kali terasa tidak nyaman saat dipakai. Namun, saat ini banyak masker yang sudah didesain sedimikian rupa supaya bisa tampil modis dan tidak menahan aliran karbon dioksida yang dikeluarkan oleh penggunanya.

Masyarakat disarankan untuk menggunakan masker tiga lapis untuk mencegah terpaparnya virus. Sedangkan Masker N95 yang memiliki pori – pori lebih kecil dibandingkan masker kain pun juga aman bila digunakan sesuai anjuran.

Dokter spesialis paru-paru dari OSF HealthCare Michael Peil mengatakan penggunaan masker dalam jangka panjang tidak akan menyebabkan menumpuknya karbon dioksida saat setelah dihembuskan. Saat pengguna masker menghembuskan napas yang berarti menghembuskan karbon dioksida, karbon dioksida akan tetap keluar melewati masker. Tidak berbahaya sama sekali karena karbon dioksida akan melewati serat masker dan seketika dapat menghirup udara segar lagi sebagaimana ketika tidak menggunakan masker.

Dokter dari Carolina Selatan Megan Hall bahkan melakukan uji saturasi oksigen dan denyut jantungnya sendiri dalam empat situasi. Keempat situasi tersebut adalah tanpa masker, dengan masker bedah, dengan masker N95 dan dengan masker bedah sekaligus N95. Beliau menulis dalam unggahan Facebooknya bahwa “Tidak ada perubahan signifikan dalam saturasi oksigen atau denyut jantung saya dalam semua situasi itu.” tulisnya. Walapun dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi sebagian orang, tapi tentu saja pengguna masker tetap bisa bernapas sebagaimana semestinya.

Mitos Tentang Penggunaan Masker Dapat Mempengaruhi Sistem Imun

koli bacteria 123081 1280

Terdapat mitos menyatakan bahwa penggunaan masker dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh yang dimiliki manusia sehingga akan menjadi pemicu adanya gelombang kedua pandemi Covid-19. Penyataan ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah dan para tenaga medis padahal masker merupakan alat yang dibutuhkan untuk mencegah penularan Covid-19.

Selain itu, sebagian orang juga memiliki anggapan bahwa berdiam diri di rumah selama pandemi justru dapat membuat sistem kekebalan tubuh atau imun melemah. Karena tubuh tidak mendapatkan paparan bakteri yang cukup untuk menjaga fungsi tubuh. Padahal berdiam diri di rumah bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Seseorang masih bisa melakukan kegiatan seperti berolahraga dengan berjalan – jalan kecil di sekitar rumah atau melakukan kegiatan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Dr Mike yang merupakan dokter perawatan primer dalam channel Youtubenya menepis anggapan tersebut. Beliau mengatakan bahwa melakukan kegiatan kecil di sekitar rumah bisa mendapatkan paparan bakteri yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh supaya berfungsi optimal. Ia juga mengatakan untuk tidak mengaitkan penggunaan masker dengan melemahnya sistem imun tubuh.

Mitos Tentang Penggunaan Masker Tidak Akan Berfungsi pada Orang yang Tidak Terkena Covid-19

Masker perlu dikenakan baik yang terpapar Covid-19 maupun yang tidak. Sebab masker bisa memberi perlindungan lebih dan mencegah individu menyentuh hidung dan mulut yang berpotensi terpapar virus. Jika setiap orang patuh dalam mengenakan masker, maka risiko penularan dapat ditekan. Mengingat penularan Covid-19 dinilai sangat mudah karena melalui droplet atau percikan air liur. Alangkah baiknya pencegahan Covid-19 dibarengi dengan tidak hadir di tengah kerumunan,  jaga jarak fisik dan selalu menjaga kebersihan.

Mitos Tentang Orang dengan Penyakit Asma Tidak Boleh Menggunakan Masker

cigarette 3022376 1280

Tidak jarang orang-orang juga memiliki kekhawatiran ketika menggunakan masker terutama bagi penderita penyakit pernapasan seperti asma. Namun hingga saat ini belum ada bukti bahwa penggunaan masker dapat memicu masalah pernapasan. Akan tetapi memang, dokter memberikan solusi bagi penderita penyakit pernapasan yang sudah akut. Bagi penderita asma disarankan untuk mengganti dan melepas masker secara berkala dan menghidari penggunaan masker yang ketat. Penderita juga dapat melakukan konsultasi kepada dokter apabila memiliki masalah dengan penggunaan masker.

Berikut adalah pemaparan terkait mitos penggunaan masker selama pandemi. Share artikel ini dan tuliskan pemikiran kamu terkait mitos penggunaan masker di kolom komentar. Semoga mitos ini bisa diketahui oleh banyak orang dan lebih banyak orang lagi yang sadar akan pentingnya penggunaan masker. Dengan demikian Covid-19 dapat sepenuhnya hilang dari muka bumi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *