Gejala, Penyebab dan Pengobatan HIV/AIDS

Gejala, Penyebab dan Pengobatan HIV/AIDS

Salah satu penyakit yang terkenal paling beresiko di dunia adalah HIV/AIDS. Penyakit satu ini telah menjadi masalah darurat global. Berdasarkan data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS), pada tahun 2018 sebanyak 37,9 juta orang di dunia hidup dengan HIV dan 770.000 orang meninggal karena AIDS.

HIV/AIDS masih menjadi momok menakutkan yang terus menghantui. Namun sangat disayangkan pengetahuan tentang penyakit ini terbilang rendah. Banyak orang yang belum mengetahui benar mengenai HIV/AIDS sehingga banyak informasi yang simpang siur. Berikut di bawah ini serba – serbi tentang HIV/AIDS yang perlu kamu ketahui:

HIV/AIDS

Berdasarkan Kementerian Kesehatan, HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis virus yang menyerang/menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS atau Acqiured Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi oleh HIV.

Penurunan kekebalan tubuh menyebabkan orang tersebut mudah terserang berbagai infeksi yang berakibat fatal. Jadi, Seseorang yang terinfeksi virus HIV tidak dapat menyingkirkan virus dari tubuh sepenuhnya.

Aids muncul setelah stadium infeksi HIV yang parah. Biasanya ditandai dengan timbulnya berbagai macam penyakit kronis lain seperti kanker.

Penyebab HIV dan AIDS

Penyebab HIV terjadi saat darah, sperma atau cairan vagina dari seseorang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain yang didapat melalui berbagai cara, seperti:

Hubungan Seks

Infeksi HIV dapat tertular melalui hubungan seksual baik melalui vagina ataupun dubur (anal). Selain itu dapat juga tertular melalui seks oral. Resiko tertularnya HIV juga lebih tinggi jika melakukan hubungan seks tanpa pengaman dan sering berganti pasangan.

Berbagi Jarum Suntik

Penularan melalui jarum suntik yang digunakan oleh lebih dari satu orang pada saat mengkonsumsi Narkoba. Transfusi darah yang tidak aman pun menyebabkan penularan HIV.

Donor Darah atau Organ Tubuh

Penularan HIV juga dapat terjadi saat seseorang menerima donor darah atau organ tubuh lainnya.

Ibu Hamil Positif HIV ke Bayinya

Penularan dapat terjadi pada ibu hamil positif ke bayinya. Sehingga salah satu kebijakan pemerintah kepada seluruh ibu hamil adalah dengan mengharuskannya screening.

Perlu diketahui, HIV tidak akan menular melalui kontak kulit, seperti berpelukan, penggunaan WC bersama, bersentuhan, menggunakan alat makan bersama, gigitan nyamuk, atau tinggal serumah dengan penderita.

Gejala HIV/AIDS

Seseorang yang tertular HIV akan mengalami flu, demam, sakit kepala, kelelahan dan ruam – ruam merah. Dalam beberapa kasus lainnya bisa saja tidak menunjukan gejala. Orang dengan HIV akan merasa terlihat sehat. Namun banyak yang tidak tahu bahwa mereka ternyata seorang pengidap.

Sistem kekebalan yang terus – menerus diserang virus. Gejalanya akan terus berkembang seperti kelelahan yang terus – menerus, pembengkakan kelenjar, penurunan berat badan yang cepat, berkeringat di malam hari, hilangnya daya ingat dan diare.

Gejala yang berlangsung lama ditandai dengan sistem kekebalan yang rusak parah menyebabkan kanker, infeksi lain dan kerusakan otak. Inilah yang disebut AIDS.

Perawatan HIV

Tidak ada pengobatan untuk HIV, penyakit ini akan terus ada pada seseorang yang positif HIV. Tetapi kepatuhan yang ketat untuk mengkonsumsi rejimen anti-retroviral (ARV) dapat secara dramatis memperlambat bertambah parahnya penyakit ini serta mencegah infeksi sekunder dan komplikasi.

Terapi anti-retroviral (ART) berarti mengobati infeksi HIV dengan beberapa obat. Karena HIV adalah retrovirus, obat ini biasa disebut anti-retroviral (ARV). ARV tidak membunuh virus melainkan dapat memperlambat pertumbuhan virus. Waktu pertumbuhan virus dilambatkan, begitu juga penyakit HIV.

Dengan berkurangnya virus HIV maka dapat memberi kesempatan bagi sistem kekebalan tubuh untuk pulih dan cukup kuat melawan infeksi. Saat jumlah virus rendah dan tidak terdeteksi, kemungkinan juga berkurangnya penularan infeksi HIV ke orang lain.

Biasanya setelah terdeteksi, seseorang akan langsung diminta untuk minum obat ART. Apalagi saat penderita sedang dalam kondisi, seperti:

  • Hamil.
  • Memiliki infeksi oportunistik (penyakit bawaan seperti ginjal, hepatitis B dan C ataupun kanker).
  • Memiliki gejala yang parah.
  • Jumlah sel CD4 di bawah 350.

Perawatan di Rumah

Seseorang yang mengalami penyakit HIV harus memperhatikan gaya hidup. Selain itu melakukan pengobatan rumahan serta pencegahan yang dapat membantu mengatasi infeksi. Misalnya dengan:

  • Pola makan sehat, mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Tidak lupa konsumsi sayur dan buah-buahan.
  • Istirahat yang cukup.
  • Rutin olahraga.
  • Tidak merokok atau minum-minuman keras.
  • Manajemen stres seperti melakukan meditasi atau yoga.
  • Selalu cuci tangan dengan sabun dan air bersih.
  • Melakukan vaksin untuk mencegah infeksi seperti radang paru dan flu.

Untuk ibu hamil sebaiknya konsultasikan dengan dokter yang memiliki pengalaman menangani pasien ODHA. Sebab tanpa pengobatan, bayi yang lahir dari ibu positif HIV juga akan terinfeksi.

Ibu hamil positif HIV dapat melakukan tindakan pencegahan penularan dengan rutin menggunakan ARV. Melahirkan dengan jalur operasi serta tidak menyusui ASI eksklusif.

Pengobatan HIV/AIDS Secara Alami

Beberapa tanaman Indonesia yang berpotensi menjadi obat HIV/AIDS antara lain:

Kunyit

Kunyit diketahui memiliki efek farmakologik berfungsi sebagai antitumor, anti-inflamasi dan dapat menghambat aktivitas enzim integrase HIV-1.

Lidah Buaya

Diteliti di laboratorium AS dan Kanada, lidah buaya bersifat antitumor, imunostimulan, antiretroviral. Bahan kimia yang terkandung disebut acemannan dapat diminum bagi penderita HIV/AIDS.

Berdasarkan data dari Nigeria, Obafemi Awolowo University, menunjukkan bahwa lidah buaya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV.

Sambiloto

Telah dipatenkan di Universitas Basyr dengan nama AdroVir, sambiloto dapat menghambat pertumbuhan virus HIV-1 maupun virus HIV-2.

Penderita HIV/AIDS tidak boleh sembarangan meminum obat – obatan herbal. Sebaiknya konsultasikan pada dokter terkait hal tersebut. seseorang juga dapat meminta rekomendasi obat herbal yang bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau pun diperbolehkan, pastikan telah terdaftar di BPOM dan teruji secara klinis dengan cara mengecek kemasan, membaca label, dan lihat logo golongan obat.

Share artikel ini dan tuliskan pemikiran kamu terkait HIV/AIDS di kolom komentar dibawah ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *