Bolehkah Wanita Melamar Pria dalam Islam?

Bolehkah Wanita Melamar Pria dalam Islam?

Semua umat Muslim memiliki kewajiban mengikuti sunnah Rasulullah Saw., yaitu menikah. Namun, lantaran jumlah wanita yang jauh lebih banyak dibanding jumlah laki-laki, terkadang hal ini menjadi problem tersendiri.

Tidak sedikit wanita yang belum menikah atau berstatus janda ingin menikah, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menawarkan dirinya karena takut disebut tidak punya rasa malu atau bahkan murahan.

Itulah sebabnya, banyak muslimah yang mengalami kebimbangan ketika tidak kunjung bertemu dengan jodohnya. Selama ini, umumnya wanita menunggu laki-laki yang melamarnya. Ketika laki-laki menyukai wanita shalihah dan ia mantap dengan pilihannya, ia bisa mengkhitbah wanita tersebut. Ya, biasanya yang melakukan lamaran calon pasangan dilakukan oleh pihak laki-laki.

Lantas, bagaimana jika hal itu terjadi pada wanita yang menyukai laki-laki yang shalih?

Bolehkah kaum hawa juga melakukan hal yang sama, yaitu melamar laki-laki pujaan hatinya?

Apakah cara itu tercela dan memalukan?

Sebenarnya, Islam tidak membatasi harus laki-laki yang melamar wanita. Wanita juga boleh melamar laki-laki shalih dengan berbagai pertimbangan. Dan, hal itu sama sekali bukan tindakan tercela jika ditujukan dalam rangka kebaikan dengan niat mendapatkan suami yang shalih atau bukan semata karena hawa nafsu duniawi. Itu artinya, wanita juga boleh melamar laki-laki yang disukainya.

Pada masa Rasulullah Saw., ada beberapa peristiwa wanita melamar laki-laki. Bahkan, ada beberapa wanita yang langsung melamar Rasulullah Saw. untuk dijadikan suami mereka.

Dalam sebuah riwayat, Tsabit mengisahkan bahwa ia pernah duduk bersama Anas Bin Malik Ra., sedangkan putrinya ada di sisinya. Anas Ra. berkata, “Ada wanita datang kepada Nabi Saw. menawarkan dirinya kepada beliau, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda mau menerimaku?'”

Lantas, putrinya (Anas Ra.) berkata, “Betapa sedikitnya rasa malu yang dimiliki wanita itu!”

Anas bin Malik Ra. kembali berkata, “Bahkan ia lebih baik darimu, ia menyukai Rasulullah Saw., lalu menawarkan dirinya kepada beliau demi kebaikan.” (HR. Bukhari dan Ibnu Majah)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Sahal bin Sa’ad Ra. menuturkan bahwa pada suatu ketika, Rasulullah Saw. didatangi oleh wanita, ia berkata, “Ya Rasulullah, kuserahkan diriku kepadamu.”

Akan tetapi, Rasulullah Saw. tidak berkenan untuk menikahi wanita itu. Hingga datanglah laki-laki dalam majelis tersebut dan berkata, “Ya Rasulullah, nikahkan dengan saya saja jika Anda tidak ingin menikahinya.”

Kemudian, Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah!” jawab laki-laki itu.

“Pergilah ke keluargamu, bisa jadi kamu bisa mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah Saw.

Kemudian, laki-laki itu pun pergi. Tidak berapa lama, ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun” kata laki-laki itu.

Rasulullah Saw. kembali bersabda, “Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.”

Laki-laki itu pun pergi dan tidak berapa lama kemudian, ia kembali lagi seraya berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah! saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tetapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini.”

Lalu, Rasulullah Saw. bersabda, “Apa yang dapat kamu perbuat dengan sarungmu itu? jika kamu memakainya, berarti wanita ini tidak mendapat sarung itu. Dan, jika ia memakainya, berarti kamu tidak memakai sarung itu.”

Laki-laki itu duduk cukup lama, lalu ia bangkit. Rasulullah Saw. melihatnya berbalik pergi, kemudian beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut. Sesampainya di hadapan Rasulullah Saw., beliau bertanya, “Apakah kamu hafal al-Qur’an?”

“Ya, surat ini dan itu (sambil menyebutkan surat yang dihafalnya)”, jawab laki-laki itu.

“Benar-benar kamu menghafalnya di dalam hatimu?” kembali Rasulullah Saw. bertanya.

“Iya,” tegas laki-laki itu.

Rasulullah Saw. bersabda, “Bila demikian, baiklah! Sungguh, aku telah menikahkan kamu dengan wanita ini dengan mahar berupa surat-surat al-Qur’an yang kamu hafal.”

Dari keterangan kedua hadits tersebut, sangat jelas bahwa Islam tidak membatasi lamaran hanya boleh diajukan oleh laki-laki. Nyatanya, wanita bisa langsung menawarkan diri langsung kepada yang bersangkutan seperti halnya yang dilakukan wanita dalam hadits itu.

Dalam kitab Fathul Bari, disebutkan bahwa wanita yang datang kepada Rasulullah Saw. untuk minta dinikahi tidak hanya satu, melainkan banyak, diantaranya ialah Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, dan Laila binti Hatim.

Kendati diperbolehkan melamar laki-laki yang disukainya, wanita harus melakukannya dengan etika yang baik. Peminangan itu harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *